Mengapa Politik Kiri menjadi Politik Alternatif di Prancis?; Sebuah Refleksi atas Kemenangan Partai Kiri di Prancis

| PENAMARA . ID

Senin, 19 Agustus 2024 - 16:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kelompok sayap kiri Prancis, di mimbar :  Jean-Luc Mélenchon

Kelompok sayap kiri Prancis, di mimbar : Jean-Luc Mélenchon

PENAMARA.ID – Sebelum memulai tulisan ini penulis ingin mengajak pembaca untuk kilas balik kepada kemenangan pemilihan umum di Prancis yang meraih kemenangan atas perjuangan politik kiri dalam menggulingkan kekuasaan sebelumnya. Hal yang sama ternyata juga terjadi di Amerika Latin seperti di Chile beberapa waktu yang lalu. Kemenangan atas politik kiri ini ternyata bukan hal yang utopis, melainkan dapat terjadi di dunia nyata.

Kemenangan partai kiri di Prancis sempat membuat publik khususnya masyarakat atau elit Prancis kaget. Karena perkiraan nya partai kanan jauh akan menang telak. Namun di putaran kedua, aliansi kiri New Popular Front (NFP) ternyata menang telak sebanyak 172-215 kursi di parlemen. Ini menunjukan bahwa terdapat sirkulasi politik yang terjadi di Prancis dan politik kiri, dianggap sebagai alternatif atas situasi dan kondisi politik Prancis yang selama ini dipimpin oleh Emmanuel Macron.

Pertanyaan yang muncul setelah penulis melihat peristiwa tersebut adalah mengapa politik kiri menjadi politik alternatif yang dipilih sebagai ‘jalan keluar’ untuk menggulingkan kekuasaan yang ada, dan kesadaran masyarakat seperti apa yang kemudian dapat membangkitkan pilihan terhadap ‘politik kiri’ di Prancis? Mari kita bahas satu per satu.

Jika kita terbang sebentar ke Chile, kemenangan Gabriel Boric merupakan kemenangan terhadap sosialisme di Chile setelah berhasil merebut kekuasaan lama dari demokrasi pasca-otoritarianisme nya sama seperti di Indonesia. Kemenangan ini tentunya dapat membawa pengaruh baik khususnya untuk Chile itu sendiri. Kabinet yang dibangun oleh Gabriel Boric juga diisi oleh kawanan aktivis yang memang setia pada perjuangan perlawanan melawan rezim sebelumnya. Dari 24 menteri yang mendampingi Boric, 14 nama yang dipilihnya adalah perempuan salah satunya nama Camila Vallejo, mantan aktivis dan pemimpin gerakan mahasiswa yang juga kader Partai Komunis Cile.

Hal serupa juga terjadi di Prancis, pada tahun 2023 terjadi pemberontakan di Paris awal Maret lalu dan dilaporkan lebih dari satu juta orang turun ke jalan karena rakyat sudah tidak percaya terhadap pemerintah yang berbuat sesukanya tanpa memperhatikan kehendak rakyat. Dari peristiwa yang terjadi di 2 negara tersebut, ternyata lahirnya gerakan revolusioner sebenarnya karena situasi dan kondisi politik yang terjadi saat itu, dan politik kiri dianggap sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut.

Tak dapat dipungkiri, kesadaran revolusioner tak dapat hidup dalam ruang hampa yang kemudian dapat tumbuh dengan sendiri nya tanpa adanya keterlibatan apapun semisal pergerakan atau pemikiran progresif yang mencoba menghadirkan situasi lain yang dianggap lebih baik, yang kemudian bisa menjadi gerakan progresif berskala besar bahkan dapat sampai menumbangkan kekuasaan status quo yang dianggap tidak berpihak terhadap rakyat.

Kebelengguan situasi dan politik yang mencengkram masyarakat Prancis ternyata tetap butuh waktu untuk dapat melancarkan agenda revolusioner tadi, atau istilahnya adalah momentum, atau puncak kemuakan rakyat terhadap pemerintahan Emmanuel Macron.

Sejarah telah menunjukkan bahwa ada dua kecenderungan yang mungkin terjadi di sini: menunggu hingga situasi seperti itu (revolusioner) terbentuk “dengan sendirinya”, atau secara aktif membantunya menjadi ada–bukan tanpa kesulitan, memang, tetapi dengan kemungkinan bantuan dari ritme yang, dalam konjungtur tertentu, dapat mengalami akselerasi yang memukau.

Dalam hal ini, Prancis sudah membuktikan bahwa agenda revolusioner itu secara aktif dibantu untuk naik ke permukaan masyarakat yang kemudian berdampak pada kesadaran politik masyarakat Prancis sehingga politik alternatif ‘kiri’ dianggap sebagai jawaban atas kebelengguan yang terjadi. Pada akhirnya, agenda revolusioner Prancis dapat dimaksimalkan dalam pemilihan umum yang terjadi beberapa waktu lalu, dimana kemenangan terhadap politik kiri hari ini mendominasi Prancis.

Untuk menjawab pertanyaan dalam tulisan ini, yang pertama kali harus kita ketahui adalah kesadaran revolusioner perlu dibentuk dalam masyarakat. Walaupun masyarakat sadar akan keadaan politik nasional yang semakin hari semakin menindas, semua akan terasa semakin berat ketika tidak diimbangi dengan kesadaran revolusioner dengan tujuan gerakan perubahan sosial. Dalam hal ini, masyarakat perlu membiasakan diri untuk turut aktif dalam kerja-kerja politik perubahan demi berlangsungnya kesadaran revolusioner tadi. Sehingga, paradigma yang sudah terbangun dengan baik itu pada akhirnya akan berujung pada standing position masyarakat yang berpijak pada agenda politik revolusioner, sebagai contohnya seperti agenda politik kiri yang ternyata dapat menjadi pilihan politik alternatif.

Maka, kesadaran revolusioner itu tadi memiliki kesinambungan dengan pemilihan politik kiri yang dianggap sebagai alternatif terhadap kebuntuan situasi politik yang terjadi di Prancis. Ini membuktikan bahwa kesinambungan terhadap arah gerakan politik nasional di Prancis sudah mulai membuka kacamata kita semua, dimana agenda politik kiri masih bisa dijadikan pilihan untuk keluar dari sistem politik yang cenderung menindas dan sama sekali tidak berpihak pada rakyat.

Dari peristiwa yang terjadi di Prancis, sebenarnya kita dapat belajar banyak dari pengalaman nya. Terlebih lagi, sistem politik nasional kita yang semakin hari semakin kacau balau, bahkan oligarki menari bebas bak sedang dalam pertunjukan teater yang seakan-akan masyarakat sedang dalam keadaan baik-baik saja untuk menikmati pertunjukan yang diunjukan oleh para oligarki. Padahal di saat bersamaan masih banyak orang yang kelaparan.

Mungkin kita butuh usaha lebih keras lagi untuk mendorong kesadaran revolusioner dalam masyarakat kita bahwa sebenarnya kita semua sedang terbelenggu dalam gaya ‘penjajahan baru’ yang terselimuti oleh wajah yang dianggap menarik bernama globalisasi. Atau mungkin, pengorganisasian massa yang belum maksimal menjadi salah satu faktor mengapa kesadaran revolusioner itu belum naik ke permukaan.

Kalau pun kesadaran revolusioner itu sudah terbentuk, tantangan terbesar hari ini yang dialami oleh bangsa Indonesia sebenarnya watak individualistik yang melekat sehingga masyarakat hanya mau menyelamatkan dirinya sendiri ketimbang ‘cape-cape’ memikirkan agenda revolusioner yang sebenarnya akan membawa bangsa Indonesia kepada kebaikan.

Kalau Prancis dan Chile dapat membebaskan dirinya terhadap kebelengguan politik yang menindas, mengapa Indonesia tidak bisa segera sadar dan bergerak untuk membawa bangsa Indonesia ke arah yang sesuai dengan cita-cita bangsa dalam Pancasila? Apakah kita akan menyerah sehingga cita-cita revolusioner Pancasila tidak akan pernah terwujud dan hanya akan berada pada taraf utopia?


Artikel Lain : Perpindahan Ibu Kota Bukan Solusi Untuk Indonesia

Penulis : Agnes Monica

Editor : Redaktur

Berita Terkait

Hukum dalam Feminist Legal Theory dan Seni Membungkam khas Patriarki
Sebuah Bantahan Anarkisme atas Pembelaan “Diktator Proletariat”
Kediktatoran Upah; Mengapa Kita Menjual Hidup demi Angka?
Terorisme: Kejahatan Luar Biasa Tanpa Yurisdiksi Jelas
Pembunuhan Massal Penduduk Sipil Gaza; Dimana Hukum Pidana Internasional?
Baru Gajian Dompet Langsung Tipis
Membaca Sejarah dari Tumpukan Sampah
Perdagangan Perempuan dan Anak, Kejahatan Tersembunyi di Perbatasan Nepal-India

Berita Terkait

Sabtu, 31 Januari 2026 - 03:55 WIB

Hukum dalam Feminist Legal Theory dan Seni Membungkam khas Patriarki

Senin, 26 Januari 2026 - 02:02 WIB

Sebuah Bantahan Anarkisme atas Pembelaan “Diktator Proletariat”

Rabu, 21 Januari 2026 - 13:48 WIB

Kediktatoran Upah; Mengapa Kita Menjual Hidup demi Angka?

Selasa, 6 Januari 2026 - 11:33 WIB

Terorisme: Kejahatan Luar Biasa Tanpa Yurisdiksi Jelas

Senin, 5 Januari 2026 - 15:53 WIB

Pembunuhan Massal Penduduk Sipil Gaza; Dimana Hukum Pidana Internasional?

Berita Terbaru