Mengapa Buku Sarinah Luput dari Pembacaan Kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia?

| PENAMARA . ID

Kamis, 18 Juli 2024 - 20:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Buku Sarinah

Buku Sarinah

PENAMARA.ID – Bagi kalangan kaum marhaenis atau mungkin orang-orang yang dekat dengan pembacaan tulisan Bung Karno, dan lebih khususnya lagi bagi anggota serta kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia mungkin tak asing lagi dengan buku sarinah. Pada tahun 1948 , Bung Karno menulis kitab dengan judul ‘Sarinah’; Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia’. Latar belakang lahirnya Buku Sarinah ini karena perhatian Bung Karno terhadap ‘soal-soal wanita’. Menurut Bung Karno, soal wanita adalah soal masyarakat, dan kita tidak dapat menyusun negara apalagi masyarakat jika kita tidak mengerti soal-wanita.

Bung Karno menyebutkan bahwa sayang sekali ternyata soal-wanita itu belum pernah dipelajari dengan sungguh-sungguh oleh pergerakan kita. Penulis bersepakat dengan Bung Karno, bahkan mungkin sampai dengan hari ini memang pergerakan kita sering luput membahas persoalan perempuan. Semisal, bagaimana masyarakat hari ini masih bercorak diskriminatif terhadap perempuan, masih mengesampingkan kebebasan seorang perempuan, bahkan masih banyak jerat belenggu yang disematkan kepada perempuan dengan memberikan beban ganda yang tak berkesudahan dalam kehidupan perempuan.

Penamaan kitab ‘Sarinah’ ini adalah bentuk terimakasih Bung Karno kepada pengasuh nya ketika ia masih kanak-kanak. Pengasuhnya itu bernama Sarinah dan Sarinah kerap membantu Ibu beliau dan dari dia lah seorang Bung Karno menerima banyak rasa cinta dan rasa kasih. Dari Sarinah lah Bung Karno mendapat pelajaran untuk mencintai ‘orang kecil’ walaupun dia sendiri adalah ‘orang kecil’ namun budinya selalu besar.

Dalam perjalanan pergerakan perempuan, tak bisa dipungkiri bahwa perempuan khususnya di Indonesia mengalami pasang surut dalam mencapai kebebasan. Titik balik penundukan pergerakan perempuan sebenarnya terjadi pada era orde baru dimana perempuan kembali di tundukan kedalam urusan sumur kasur dan dapur. Titik balik inilah yang kemudian cukup mempengaruhi alam bawah sadar masyarakat kita sehingga belenggu itu masih mengakar kuat, bahkan sampai hari ini.

Dari banyaknya kesusahan perempuan dalam kehidupannya, ternyata penulis memiliki refleksi tersendiri terhadap pergerakan perempuan itu sendiri khususnya dalam tubuh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia yang mengaku sebagai seorang marhaenis. Titik balik kritik penulis terhadap situasi dan kondisi ini adalah terlewatnya kebiasaan kader dan anggota dari pembacaannya kepada kitab ‘Sarinah’ ini. Padahal, Bung Karno dengan kesetiaan hati nya membuat kitab tentang perempuan ini untuk menunjukkan bahwa, kesadaran masyarakat terhadap persoalan perempuan memiliki keterkaitan dengan revolusi nasional.

Dalam kajian keseharian organisasi gerakan mahasiswa yang berbasis pada kajian-kajian Bung Karno ini ternyata pergerakan perempuan dihadapkan pada realita bahwa perjuangan perempuan mengalami hambatan dari tubuh gerakan yang mengaku sebagai anak ideologis Bung Karno. Dalam kitab ‘Sarinah’ yang di tulis Bung Karno, ada tertulis “Atau, benarlah pula perkataan Baba O’lllah, yang menulis, bahwa ”laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung”. Jika dua sayap itu sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai puncak udara yang setinggi-tingginya; jika patah satu daripada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu samasekali.“ Bung Karo mengutip perkataan Baba O’lllah ini sebagai perumpamaan bahwa laki-laki dan perempuan merupakan satu kesatuan yang sebenarnya tak terpisahkan.

Hambatan dalam tubuh gerakan ini adalah minimnya diskusi dan literasi terkait dengan perempuan. Kitab ‘Sarinah’ ini mungkin tidak terlalu menarik perhatian banyak seperti buku-buku lain yang Bung Karno tulis, semisal seperti Penyambung Lidah Rakyat, atau Dibawah Bendera Revokusi, atau mungkin soal Nasakom -nya Bung Karno. Diskusi soal Sarinah ternyata tidak semenarik diskusi soal Marhaenisme atau bahkan Materialisme, Dialektika, dan Historis. Penulis melihat situasi ini sebagai krisis terhadap kesadaran soal wanita seperti yang Bung Karno sebutkan.

Buku Sarinah hanya dianggap khusus untuk perempuan saja, sehingga para laki-laki nya tidak memiliki kewajiban untuk membaca apalagi mendiskusikan nya. Kebiasaan ini tentunya memiliki dampak terhadap gerakan itu sendiri. Padahal, perjuangan nasional tetap dibutuhkan kerjasama antara laki-laki dan perempuan. Lalu bagaimana kita menuju pada kemerdekaan nasional jika ternyata soal-soal perempuan belum terkemuka di dalam masyarakat? Bagaimana caranya kita mencapai perjuangan nasional jikalau persoalan perempuan masih belum terpecahkan sehingga masih menjerat kaum perempuan yang sebenarnya berdampak pada kemerdekaan nasional?

Untuk menjawab pertanyaan diatas, menurut penulis alternatif gerakan yang dapat di lakukan adalah mulai mendiskusikan persoalan mendasar perempuan. Kesadaran akan ketertindasan perempuan harus kita sadari sejak awal, bahwa ternyata perempuan sudah hidup dalam keterkungkungan semasa hidupnya.

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia sebenarnya bisa menjadi antitesis terhadap situasi yang di hadapkan oleh perempuan. Harapan terhadap kehidupan yang lebih baik sebenarnya dapat dimulai dan dibangun dari paradigma awal serta kebiasaan baik dalam gerakan mahasiswa yang berbasis pada ideologi Marhaenisme ini.

Baca juga : https://penamara.id/pendidikan-tinggi-untuk-orang-ber-privilage

Mengapa harapan penulis lebih besar dalam organisasi ini karena basis analisis yang ditanam dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia adalah Marhaenisme. Ideologi dalam organisasi ini sebenarnya dekat dengan ketertindasan, dalam arti memang memiliki tujuan untuk mengentaskan segala bentuk penindasan. Harusnya, seluruh anggota dan kader lekat dengan pembahasan itu, maksudnya bukan menjadi pembahasan yang asing di telinga para anggota dan kader tentang ketertindasan perempuan.

Kebiasaan baik lain yang dapat dibangun adalah dengan membentuk suatu kebiasaan yang setara. Pertama-tama kita semua harus tahu lebih dulu bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai kesempatan yang sama. Paradigma awal ini merupakan pantikan terbesar dalam gerakan, karena mempunyai dampak yang begitu signifikan terhadap budaya serta kebiasaan dalam organisasi. Tindakan yang kerap kali diskriminatif dan seksis kadang terjadi begitu saja tanpa kita sadari dan tak ada satupun yang dapat membendung situasi tersebut, seakan-akan memang meng-amini problem yang ada. Walaupun terkadang mungkin itu guyon semata, ternyata tanpa kita sadari ketika kita mendiamkan sesuatu yang salah kita turut memperpanjang penindasan terhadap perempuan.

Untuk sadar kepada hal itu, kita semua harus terbiasa atau dekat dengan pembacaan seputar perempuan. Kenapa ada pergerakan perempuan, kenapa perempuan mengalami ketertindasan, dan mengapa dibutuhkan revolusi dalam gerakan perempuan. Buku Sarinah ini bisa menjadi pedoman khususnya bagi seluruh anggota dan kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia untuk setidak-tidaknya sensitif terhadap soal-wanita seperti yang disebutkan Bung Karno.

Mengapa kita semua harus sensitif terhadap persoalan ini? Akhir dari perjuangan ini semata-mata hanya untuk kemenangan marhaen. Bagaimana mungkin kemenangan marhaen akan terwujud jika persoalan mendasar ketertindasan perempuan tak pernah terkuak di permukaan, setidaknya dalam internal Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia itu sendiri. Kemenangan marhaen adalah bagian dari perjuangan nasional yang membutuhkan kerjasama antara laki-laki dan perempuan. Itu semua membutuhkan kebersamaan perjuangan dalam arti, kita semua harus ikut mengentaskan ketertindasan yang sering menimpa perempuan, setidak-tidaknya kita semua punya perasaan terhadap situasi tersebut. Lagipula, budaya patriarki sebenarnya punya dampak buruk baik untuk perempuan maupun untuk laki-laki itu sendiri.

Sebagai penutup dalam tulisan ini, anggota dan kader perempuan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia harus lebih sering memaparkan dirinya terhadap isu-isu bagaimana perempuan harus berevolusi dalam gerakan. Buku ini bisa menjadi salah satu alternatif membangkitkan semangat perjuangan, tentunya ditambah dengan buku-buku lain dan diskusi yang bisa membantu menopang cara berfikir dan analisis kita untuk semakin tajam dalam melihat fenomena persoalan perempuan. Langkah kecil ini semoga bisa memberikan semangat perjuangan kepada kita semua untuk lebih unggul mengenal bagaimana harusnya perempuan bergerak untuk kemerdekaan nasional, terlebih lagi untuk kemenangan marhaen.

Penulis : Agnes Monica

Editor : Redaktur

Berita Terkait

Terorisme: Kejahatan Luar Biasa Tanpa Yurisdiksi Jelas
Pembunuhan Massal Penduduk Sipil Gaza; Dimana Hukum Pidana Internasional?
Baru Gajian Dompet Langsung Tipis
Membaca Sejarah dari Tumpukan Sampah
Suharto dan Gelar Pahlawannya; Upaya Penundukan Kembali Gerakan Perempuan
Kekeliruan Anarkisme dalam Melihat Diktator Ploretariat sebagai Alat Perjuangan
Agama, Kuasa, dan Tubuh yang Dibungkam; Menelisik Kekerasan Seksual di Pesantren
Ketika Intoleransi menjadi Beban Tambahan bagi Perempuan
Berita ini 212 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 6 Januari 2026 - 11:33 WIB

Terorisme: Kejahatan Luar Biasa Tanpa Yurisdiksi Jelas

Senin, 5 Januari 2026 - 15:53 WIB

Pembunuhan Massal Penduduk Sipil Gaza; Dimana Hukum Pidana Internasional?

Minggu, 4 Januari 2026 - 21:11 WIB

Baru Gajian Dompet Langsung Tipis

Selasa, 30 Desember 2025 - 19:35 WIB

Membaca Sejarah dari Tumpukan Sampah

Sabtu, 15 November 2025 - 12:16 WIB

Suharto dan Gelar Pahlawannya; Upaya Penundukan Kembali Gerakan Perempuan

Berita Terbaru

Siswa penerima MBG di SD MI Raudhatul Jannah, Kelurahan Pakujaya, Kecamatan Serpong Utara, Tangerang Selatan, Banten, 30 Mei 2025. Penamara/AgnesMonica

Nasional

Kenaikan Anggaran Program MBG; Urgensi atau Ambisi Belaka?

Jumat, 9 Jan 2026 - 00:04 WIB

Ilustrasi : Banksy, Seniman Jalanan Misterius | take via hot.detik.com

Esai

Terorisme: Kejahatan Luar Biasa Tanpa Yurisdiksi Jelas

Selasa, 6 Jan 2026 - 11:33 WIB