Selamat! Anda menuju Kapitalisme Krisis Ekonomi!
Beberapa waktu lalu saya sempat dibuat terenyuh dengan kabar dari kawan-kawan saya yang kehilangan pekerjaan mereka karena PHK. Terlihat raut wajahnya yang cukup menggambarkan bagaimana intensitas hidup yang makin sulit. Matanya tergambar kepasrahan, tetapi juga mengandung kemarahan di saat yang bersamaan. Ujung alis yang seakan membentuk interaksi antara kutub magnet Utara dan Selatan, saling menarik dan membuat gaya bernama “kerung”. “haruhhh rungsing!!!” Dentumnya.
Di kesempatan yang lain, ada kawan yang juga bercerita soal usahanya yang bangkrut. Ia dan beberapa pemilik toko di sebuah pasar di Jakarta yang menjual pakaian dan barang-barang hasil produksi lainnya telah usang karena terlalu lama tergantung dan tak lagi ditawar. Pasar yang dulunya ramai pembeli kini berubah seperti kuburan selepas maghrib. Tak ada pengunjung, yang ada hanya pemilik toko-toko lain dan sesekali terlihat pak satpam sedang berpatroli.
Cerita tadi tentunya bukan sekadar masalah individu atau sekedar ‘nasib’ buruk, tapi ini semua sebenarnya tidak se-sederhana persoalan tentang ‘nasib’ belaka, namub ini merupakan masalah nasional bahkan global yang dewasa ini sedang dihadapi oleh sebagian negara-negara di dunia dan tentunya sudah pasti Indonesia. Ia seperti luka dari tubuh bangsa.
Krisis yang ada merupakan buah dari kapitalisme yang sudah menjelma menjadi sebuah rezim kehidupan, ia bukan lagi sekadar sistem ekonomi. Ia menjadi besar karena masuk ke semua lini kehidupan baik itu, politik, pendidikan, budaya, bahkan cara manusia memahami nilai dirinya. Melihat kenyataan ini, saya tentunya berfikir, apakah kota kecil anti kapitalis seperti Marinaleda dapat diterapkan di Indonesia? Apakah Indonesia punya seorang idealis dan revolusioner seperti Sánchez Gordillo? Masih belum move on dengan sebuah buku dari Dan Hancok ini, mari kita selami dan maknai kisah perjuangan luar biasa dari sebuah desa kecil di Spanyol yang membangun sistem sosial-politik alternatif, dimana mereka memperjuangkan terhapusnya kelas sosial, dimana kita akan hidup tanpa pengangguran, tanpa kemiskinan ekstrem, dengan semangat kepemilikan kolektif atas alat produksi.
Sementara itu, di Indonesia, kapitalisme justru menemukan sekutu paling setia: sistem pemerintahan yang bobrok yang dikuasai oleh elit-elit rakus. Tanah petani direbut, wilayah adat dan hutan adat dikapling untuk tambang dan industri, serta makin menguat dan masifnya pembungkaman suara-suara kritis atas nama pembangunan. Jangan klaim dulu bahwa say aini seorang ‘anti pembangunan dan kemajuan’, kali ini saya tidak hanya akan mengajak para pembaca untuk mengulas bagaimana kapitalisme menghancurkan kehidupan masyarakat, tetapi juga akan menawarkan sistem alternatif yang dapat berkaca dari Marinaleda hingga masyarakat adat Indonesia.
Proyek Radikal Anti-Kapitalis, Dialah Marinaleda
Marinaleda adalah anomali yang inspiratif di tengah krisis ekonomi Eropa. Kota kecil yang terletak di wilayah Selatan Spanyol yaitu 100 kilometer dari Sevilla, ternyata banyak mengisahkan perjuangan utopis yang berhasil ditaklukan. Seraya dunia kapitalis Spanyol kandas karena unjuk rasa besar-besaran pada tahun 2012, Marinaleda justru mampu membalik tafsir dengan menjawab pertanyaan anti kapitalis ditengah manjurnya retorika realis kapitalis. Masyarakat yang dibangun atas gotong royong dan kolektivisme ini telah bertahan dari krisis keuangan global. Dengan dipimpin oleh Sánchez Gordillo, desa ini telah berhasil menjalankan prinsip sosialisme langsung, bentuknya seperti lahan kolektif, koperasi kerja, partisipasi warga dalam pengambilan keputusan, dan penghapusan spekulasi properti. Tak hanya itu, tidak ada gentrifikasi, warganya memiliki rumah murah (hanya membayar 15 euro per bulan) dan disana tidak ada pengangguran karena sistem produksi kolektif yang kuat.
Lebih nyata dari sekedar kebijakan, Marinaleda adalah hasil dari perjuangan kelas yang panjang, dari aksi pendudukan tanah hingga pembentukan sistem ekonominya sendiri. Hal ini membuktikan bahwa alternatif terhadap kapitalisme bukan hanya sebuah ide utopia. Ia sangat mungkin, kerja-kerja atas kehendak kolektif dan keberanian dalam politik menjadi dasar utama dalam menjalankannya. Ketika kemalangan berserak dimana-mana, ketika krisis itu hadir karena sistem kapitalisme yang tidak adil, Marinaleda hadir dengan menawarkan harapan bagaimana keluar dari krisis yang berkepanjangan, sosialisme yang dianggap using dan utopia menjadi jawaban yang dipilih oleh Marinaleda.
Bagaimana Kapitalisme di Indonesia?
Di Indonesia, kapitalisme tidak dapat datang sendirian. Ia ‘digandeng’ bersama dengan para oligarki dibalut dengan semangat globalisasi, KKN juga menjadi pendamping setia sehingga kekuasaan represif mendapat tempat. Proyek-proyek infrastruktur skala besar seperti food estate, pertambangan, dan kawasan mega industri seperti IKN, secara nyata kerap mengorbankan warga lokal dan merusak lingkungan.
Lagi-lagi bukan karena saya anti terhadap pembangunan dan kemajuan, tetapi ada hal paling esensial yang dilupakan oleh rezim yang bobrok ini yaitu tentang jaminan kehidupan yang layak bagi ekosistem hutan atau masyarakat adat sebelum proyek-proyek itu dilakukan. Mari kita sedikit renungkan, jika proyek kapitalisme ini dilakukan secara adil, maka tidak akan ada petani Kendeng yang harus menyemen kaki untuk menolak pabrik semen, masyarakat di Rempang terusir demi investasi asing, dan di Papua, tanah adat terus dicaplok demi tambang emas dan sawit, itu hanya sebagian kecil, dan masih banyak lagi ketimpangan kelas yang terjadi karena kapitalisme yang didukung oleh rezim sakit bin bobrok. Bukan hanya eksploitatif lur, tapi ini brutal!
Mungkin tulisan ini terlihat terlalu klise, tapi realitas negara yang seyogyanya melindungi rakyat, sekarang justru menjadi instrumen paling dekat dengan pemodal. Ketimpangan penguasaan lahan semakin jomplang, 1% elit menguasai lebih dari separuh tanah produktif di negeri ini. Hukum yang digunakan dan diciptakan oleh elit kekuasaan secara terang-benderang ditegakan untuk kepentingan korporasi, bukan keadilan sosial. Dalam konteks ini, kapitalisme sebenarnya bukan hanya sebuah sistem ekonomi, tetapi momok jahat bagi Indonesia.
Terpinggirnya Masyarakat Adat
Sementara kota dan desa di Indonesia diseragamkan oleh pasar dan kebijakan negara, masyarakat adat yang tetap teguh menjaga nilai-nilai hidup, yang berakar pada relasi dengan alam dan komunitas lebih bisa berkelanjutan di tengah krisis saat ini. Anggapan masyarakat tertinggal dan terbelakang menurut data statistik ini justru lebih maju dan berkeadilan dalam penerapan ketahanan kehidupan manusia. Suku Baduy, tepatnya Baduy dalam, mereka menolak teknologi modern bukan karena ketertinggalan, tapi karena dianggap mengganggu harmoni. Di Tana Mollo (NTT), masyarakat mempertahankan hutan sebagai tubuh ibu, bukan sumber uang. Di Kajang Sulawesi Selatan, adat menjadi hukum yang menjaga bumi.
Masyarakat adat bisa lebih madani. Mereka tidak akan kelaparan dan inflasi karena swasembada pangan yang terbangun, mereka bisa bertahan hidup tanpa kekurangan pangan belasan hingga puluhan tahun kedepan. Masyarakat adat tidak tergantung dengan kapitalis dan oligarki, tidak ada pengangguran, perputaran mata uang tidak bisa dipengaruhi oleh kebijakan asing, dan lingkungan yang lebih sehat karena tidak ada ekploitasi pengalihfungsian lahan yang merusak lingkungan. Tidak kah itu lebih futuristik di banding kehidupan perkotaan saat ini? Lagi-lagi itu terlalu kompleks untuk dijawab ya atau tidak.
Tapi satu hal yang pasti, masyarakat adat bukanlah masyarakat terbelakang. Justru, mereka menawarkan cara hidup yang lebih tahan terhadap krisis. Saat ini kota kekurangan pangan karena inflasi, masyarakat adat bisa hidup dari ladang. Saat dunia menghadapi krisis iklim, mereka menjaga hutan dan sumber mata air. Sistem sosial mereka berbasis kolektivitas, bukan kompetisi. Dalam banyak hal, tentunya mereka lebih modern karena lebih berkelanjutan.
Maka, Apa Sesungguhnya Modernitas?
Modernitas telah lama dipahami secara sempit. Modern yang dimaksud adalah teknologi, sinyal 5G, pertumbuhan ekonomi, gedung tinggi, dan transportasi cepat. Tapi Kembali pada pertanyaan yang paling esensial, apakah itu semua membawa kesejahteraan? Apakah itu menjadi kemajuan jika yang tertinggal adalah krisis sosial, kehancuran ekologis, dan keterasingan manusia dari komunitasnya?
Marinaleda dan masyarakat adat Indonesia sama-sama mempertanyakan gagasan modernitas dominan. Mereka bukan anti kemajuan, tetapi melahirkan kemajuan yang adil, kolektif, dan berkelanjutan. Maka, saat negara terus memaksa rakyat mengikuti model pembangunan kapitalistik, kita perlu bertanya ulang: apakah kita masih ingin berjalan ke masa depan dengan kerangka yang sama, atau justru sudah saatnya kita membayangkan ulang modernitas itu sendiri? Pertanyaan ini tentunya saya yakin tidak bisa dijawab oleh pemerintahan yang sakit bin bobrok ini.
Belajar dari Pinggiran, Melawan dari Akar
Alternatif tidak lahir dari pusat kekuasaan. Ia tumbuh dari desa kecil seperti Marinaleda, dari pegunungan adat di Mollo, dari keteguhan Baduy, dan dari tenda-tenda perlawanan Petani Kendeng. Alternatif itu muncul seiring pengetahuan yang bertambah dan kepentingan kolektif manusia yang mendesak.
Dalam menghadapi kapitalisme yang kejam dan pemerintahan yang ahhh sudahlah ini, sudah barang tentu kita harus belajar dari pinggiran. Nilai-nilai kolektif, kedaulatan atas tanah, demokrasi partisipatif, dan relasi selaras dengan alam harus kembali menjadi dasar hidup bersama.
Dari Marinaleda kita memiliki makna modernitas yang bukan sekadar kecepatan dan teknologi, jauh dari itu kita maknai sebagai kemampuan menjaga hidup yang bermakna, adil, dan berkelanjutan. Masyarakat Indonesia mungkin tidak bisa menciptakan Marinaleda, tapi semangatnya bisa hadir di desa, kampung, dan komunitas kita. Semua itu bisa dilakukan selama harapan utopia tersebut dibarengi dengan keberanian untuk melawan serta membangun dari bawah. Dan mungkin suatu hari, kita tidak lagi harus berkata ‘haruhhh….rungsing!’ hahahaha.
“Kami sekarang berusaha meletakan pada tempatnya apa yang kami inginkan untuk masa depan. Tetapi kami tidak ingin menunggu sampai besok, kami menginginkannya hari ini. Apabila kita memulainya hari ini, maka ia menjadi mungkin, dan akan menjadi contoh untuk ditunjukan kepada yang lain, bahwa ada cara-cara lain untuk berpolitik, cara-cara lain untuk menjalankan perekonomian, cara lain untuk hidup bersama di sebuah masyarakat yang berbeda.” (Una utopia hacia la paz) Juan Manuel Sánchez Gordillo
“Una utopia hacia la paz“: Dalam Utopia menuju perdamaian
Artikel Lain :
Negara dalam Proyek Politik Neo-Liberalisme
Bagaimana Kebijakan Ekonomi Memicu Perang Dunia ke-II
Penulis : Siti Julaeha
Editor : Agnes Monica






