Oleh: Fiki Bahta
PENAMARA.id — Di Bandung, tempat sejarah pernah menorehkan tekad anti-imperialisme dalam Konferensi Asia Afrika, kini justru menjadi saksi bisu dari lumpuhnya idealisme dalam tubuh GMNI. Kongres yang seharusnya menjadi perayaan intelektual dan penyatuan gagasan, berubah menjadi arena dagang kuasa, sandera kepentingan, dan pengkhianatan terhadap nilai-nilai marhaenisme itu sendiri.
Badan Pekerja Kongres atau BPK, yang mestinya menjadi arsitek agung jalannya forum tertinggi organisasi, justru tampil sebagai aktor yang canggung, lemah dalam tata kelola, dan lebih sibuk menjaga titipan elit daripada menunaikan mandat organisasi. Kepanitiaan berjalan seperti kapal tanpa nakhoda, penuh manuver tanpa arah, dan disengaja ditarik dalam kelambanan yang sistematis semua demi memberi ruang kepada mereka yang bermain di balik layar oknum alumni dan elit politik yang menabur jaring dalam air keruh.
Alih-alih menjadi pelayan kongres, mereka berubah menjadi calo keputusan. Di setiap detik yang ditunda, di setiap forum yang dikebiri, ada satu hal yang pasti suara basis dibungkam, dan kongres dipaksa tunduk pada negosiasi meja makan para elit.
Bandung tidak kekurangan sejarah, tetapi yang datang kali ini bukan pahlawan, melainkan para pecundang yang berselimut bendera merah, namun hatinya telah dijual kepada pemilik modal dan penguasa. Dan celakanya, sebagian dari mereka pernah berbicara tentang nasionalisme dan keadilan sosial di hadapan kita. Kini, mereka memperdagangkan ideologi dengan harga diskon, lalu menyuruh kita diam atas nama “kebersamaan”.
Kongres ini bukan gagal karena situasi, tapi karena disabotase dari dalam. Ketidakbecusan bukan karena kurang sumber daya, tapi karena terlalu banyak tangan kotor yang ikut mencelupkan kepentingan dalam panci organisasi.
Jika GMNI lahir untuk melawan ketidakadilan dan penjajahan gaya baru, maka ironi besar sedang terjadi: kita sedang dijajah oleh mereka yang seharusnya menjadi kawan seperjuangan. Sejarah akan mencatat, bahwa di Bandung kali ini, bukan ideologi yang menang, tapi intrik dan kelicikan.
Namun ingat, api perlawanan tidak pernah padam di dada marhaenis sejati. Dan setiap pengkhianatan akan dibayar lunas, bukan di forum kongres ini, tapi dalam catatan sejarah yang akan menuntut pertanggungjawaban.
Artikel Lain: Hadiri Kongres XXII GMNI di Bandung, ini Pesan Kepala Dispora Kota Tangerwng untuk Kader Marhaenis
Penulis : Fiki Bahta
Editor : Agnes Monica






