Kebisingan Media Sosial

| PENAMARA . ID

Senin, 26 Januari 2026 - 20:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi | Sumber: oxfordfls.org/Sampada

Ilustrasi | Sumber: oxfordfls.org/Sampada

Tajuk Rencana | PENAMARA.ID – Dalam seperempat abad terakhir ini teknologi digital telah semakin lebar membuka segalanya — justru, manusia kian menjauh dari manusia lain. Dalam ruang abu-abu tersebut kedekatan sosial kita semakin terancam.

Ponsel hampir mengubah setiap kebiasaan kita menjadi tidak lazim, seperti menggunakannya saat menonton televisi, memeriksanya sebelum dan sesudah tidur, pelepas penat usai bekerja, atau menjadi risau jika daya ponsel di bawah 20%.  Awalnya ponsel memboyong slogan “connecting people”, kini bergeser menjadi “dehumanisasi” gaya baru.

Tak dianggap masalah, ponsel lebih dilihat sebagai ruang ekspresi yang mudah dan cepat untuk lari dari realitas atau sekadar pengalih masalah; ditambah hampir setiap fitur aplikasinya tersistem untuk menyajikan konten atau notifikasi yang terus “memanggil” emosi (marah, takut, kagum).

Skala penggunaan ponsel dan media sosial yang makin masif menunjukkan bahwa apa yang tampak sebagai kebiasaan personal hari ini sesungguhnya telah menjadi struktur sosial baru.

Dalam laporan Data Reportal per Oktober 2025 dari total 8,20 miliar populasi dunia, ada sekitar 5,78 miliar orang atau 70,5 persen di antaranya menggunakan ponsel. Sementara jumlah pengguna media sosial mencapai 5,24 miliar orang, setara 63,9 persen populasi dunia.

Sedangkan, analisis terhadap 286,69 juta penduduk Indonesia, memperkirakan ada 180 juta pengguna media sosial aktif per Oktober 2025, angka itu setara 62,9 persen dari total populasi Indonesia yang didominasi oleh perempuan sekitar 56,3 persen [dari 180 juta pengguna].

Kebisingan Media Sosial
Gambar: Jumlah pengakses internet dan pengguna media sosial di Indonesia | Data: Analisa Kepios dengan Meltwater dan We Are Social

Dengan banyaknya jumlah pengguna media sosial di Indonesia tidak hanya menarik masyarakatnya menjadi kreator dan influencer; tetapi menarik masyarakat asing untuk mengisi konten di negara kita. Meski materi yang disajikan terkadang kosong makna dan penuh fantasi konyol belaka.

Survei UNESCO menyatakan, banyak kreator dan influencer tidak melakukan verifikasi fakta terlebih dahulu. Mereka mengandalkan indikator engagement (interaksi) untuk like/share yang banyak. Mereka tidak melatih atau dilatih secara profesional seperti jurnalis, sehingga kualitas konten sering kurang akurat.

Selain itu studi yang dipimpin oleh Fakultas Ilmu Komunikasi UIC Barcelona (Universitat Internacional de Catalunya), konten yang dihasilkan sering bersifat trivial [remeh], terkait rutinitas pribadi, tentang gaya hidup, atau hiburan; bukan informasi kompeten atau edukatif.

Studi tersebut juga menilai, jika konten yang berkaitan dengan isu sosial, dibagikan oleh kreator yang secara jelas tidak berfokus pada isu tersebut dianggap khalayak sebagai individu yang berkomitmen secara sosial; padahal, hanya usaha meningkatkan visibilitas pribadi.

Walaupun ekosistem media sosial yang didominasi konten hiburan semata, konten edukatif tetap hadir dan memainkan peran strategis dalam membentuk literasi publik. Namun absennya mekanisme verifikasi dan dominasi “logika algoritmik” menyebabkan pengaruh mereka tidak sebanding dengan kompetensi yang dimiliki, dan menjadi tantangan serius bagi kualitas informasi publik.

Media sosial dalam ponsel dapat menjadi alat pembebasan pengetahuan sekaligus mesin pembodohan massal — semua tergantung pada kesadaran, etika, dan tanggung jawab kolektif penggunanya. Tanpa upaya membangun literasi digital kritis, keberanian menahan godaan algoritma, serta dorongan untuk memproduksi dan mengapresiasi konten bermakna, ruang digital akan tetap dipenuhi kebisingan konyol.

Artikel Lain :

Ancaman pada Tubuh Perempuan di Ruang Digital

Resirkulasi Kualitas di Ruang Digital: Mengurai Relavansi Hukum Grasham

Ancaman Hoaks dan Kebocoran Data di Era Digital

Zilenial, Fenomena Penolakan Istilah Milenial dan Generasi Z

Penulis : Devis Mamesah

Editor : Nurawaliah Ramadhani

Berita Terkait

Perampasan Aset, Jerat atau Alat Penyalahgunaan Hukum?
Segregasi Aktivis di Indonesia
Melawan Kekerasan Seksual dan Budaya Diam di Indonesia
Stagnansi Pemberantasan Korupsi
Reforma Agraria dan Proyek Strategis Nasional
Kontroversi dan Harapan Masyarakat di Pemerintahan Prabowo

Berita Terkait

Senin, 26 Januari 2026 - 20:19 WIB

Kebisingan Media Sosial

Minggu, 28 September 2025 - 04:30 WIB

Perampasan Aset, Jerat atau Alat Penyalahgunaan Hukum?

Selasa, 27 Mei 2025 - 11:47 WIB

Segregasi Aktivis di Indonesia

Minggu, 20 April 2025 - 04:24 WIB

Melawan Kekerasan Seksual dan Budaya Diam di Indonesia

Sabtu, 22 Maret 2025 - 11:33 WIB

Stagnansi Pemberantasan Korupsi

Berita Terbaru