Menjelang Rapat Umum Anggota (RUA) Perkumpulan Boen Tek Bio (BTB) yang dijadwalkan berlangsung Minggu (21/9) di Universitas Buddhi Dharma, Karawaci, tensi internal organisasi tertua di Kota Tangerang itu kian memanas. RUA yang sedianya menjadi forum pertanggungjawaban dan regenerasi kepemimpinan justru dibayangi dugaan teror, kampanye hitam, hingga fitnah yang menyerang pribadi sejumlah anggota.
Sebagai perkumpulan yang telah berdiri sejak 12 Januari 1912, Boen Tek Bio memikul sejarah panjang dan kekayaan aset yang tidak kecil. Agenda RUA kali ini bukan hanya memaparkan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) kepengurusan periode 2022–2025, tetapi juga memilih ketua baru untuk masa bakti 2025–2028.
Posisi strategis ini menjadikan perebutan kursi kepemimpinan semakin sengit, terutama karena Boen Tek Bio menaungi berbagai unit usaha bernilai tinggi: mulai dari Sekolah Setia Bakti, Sekolah Budhi, Universitas Buddhi Dharma, hingga lahan pemakaman, rumah duka, dan krematorium yang segera diresmikan.
Seorang anggota berinisial A mengaku mulai menerima pesan bernada fitnah sejak 23 Agustus lalu. Pesan yang dikirim lewat aplikasi Whatsapp percakapan itu berisi serangan personal yang dinilai tidak ada kaitannya dengan agenda organisasi.
“Pesan itu menyerang urusan pribadi. Saya harap perkumpulan bisa mengungkap siapa penyebarnya,” ujar A, Jumat (19/9).
Dugaan teror tidak berhenti di situ. Seorang umat Boen Tek Bio yang meminta identitasnya disamarkan, sebut saja Mawar, menuturkan bahwa sejumlah anggota yang digadang-gadang bakal mencalonkan diri sebagai ketua juga mendapat intimidasi serupa.
“Ada permainan kotor dengan teror-teror. Bentuknya fitnah, kata-kata kasar, dan ancaman. Hal ini sangat memprihatinkan bagi organisasi keagamaan, sosial, dan pendidikan seperti Boen Tek Bio,” ungkapnya.
Menurut Mawar, praktik teror semacam itu dikhawatirkan menekan anggota lain untuk mengurungkan niat maju sebagai kandidat ketua. “Teror ini menyebabkan kandidat-kandidat lain tidak muncul. Ini berbahaya bagi proses regenerasi,” katanya.
Kondisi yang memanas ini turut disoroti organisasi pemuda Buddhis. Bidang Kajian dan Strategis Hikmahbudhi Kota Tangerang, Steven, menegaskan bahwa teror dan intimidasi sama sekali tidak dapat dibenarkan.
“Kalau ini dibiarkan, generasi muda bisa menilai bahwa teror adalah hal lumrah dalam organisasi. Ini jelas salah besar,” tegas Steven.
Ia juga menyoroti kabar keterlibatan pihak luar dalam pengamanan RUA, termasuk rencana panitia meminta bantuan ormas dan kepolisian. “RUA ini adalah hajatan internal. Jika harus melibatkan pihak luar, kesannya dapur perkumpulan sedang bocor ke publik. Itu hanya menambah kegaduhan,” ujarnya.
Di tengah memanasnya isu, Ketua Perkumpulan Boen Tek Bio, Ruby, mencoba meredam kekhawatiran. Ia menilai dinamika menjelang pemilihan adalah hal biasa dalam setiap pesta demokrasi.
“Itu hanya black campaign. Saya pastikan 100 persen tidak akan ada keributan dalam RUA. Sama seperti pesta demokrasi, pasti ada sayap kiri dan sayap kanan. Dalam sejarah RUA, tidak pernah ada keributan,” tegas Ruby.
Ruby juga memastikan RUA hanya akan diikuti oleh anggota resmi tanpa campur tangan pihak luar. Pihaknya telah menyiapkan pengamanan internal dengan dukungan kepolisian dan satpam Universitas Buddhi Dharma untuk memastikan forum berjalan tertib.
Boen Tek Bio memiliki sekitar 218 anggota yang mayoritas berasal dari komunitas Tionghoa di Tangerang. Keanggotaan perkumpulan ini diatur ketat: pengurus dan anggota wajib ber-KTP Tangerang (Kota, Kabupaten, atau Tangsel) serta menganut agama Buddha atau Konghucu. Struktur kepengurusan terdiri dari badan pengurus, badan pengawas, dan badan penasehat dengan sistem kolektif kolegial.
Dengan kekayaan aset dan posisi strategis organisasi, jabatan ketua Boen Tek Bio jelas menjadi incaran. Namun, pertarungan ini sekaligus menjadi ujian besar bagi integritas perkumpulan berusia lebih dari satu abad tersebut. Apakah Boen Tek Bio mampu menjaga tradisi musyawarah dan nilai-nilai luhur di tengah godaan kepentingan pribadi?
Jawabannya akan terlihat dalam Rapat Umum Anggota pada Minggu, 21 September 2025. Semua mata kini tertuju pada forum tertinggi itu—sebuah momentum yang tak hanya menentukan arah organisasi, tetapi juga mencerminkan kedewasaan demokrasi internal dalam salah satu ikon budaya dan keagamaan tertua di Kota Tangerang.
Penulis : Ari Sujatmiko
Editor : Redaktur






