Tajuk Rencana | PENAMARA.ID – Tahun 2045 menjadi titik balik bagi Indonesia yang kemerdekaannya akan berumur 100 tahun. Semboyan “Indonesia Emas 2045” yang sudah sering diangkat, justru menimbulkan pertanyaan dari bangsanya sendiri: seperti apa wujud “keemasan” itu?
Fondasinya utama bertumpu pada pembangunan manusia dan penguasaan ilmu pengetahuan teknologi, ekonomi maju dan berkelanjutan, pembangunan yang merata, serta negara yang kuat, demokratis, dan bersih. Tolak ukur dari pencapaian tersebut adalah bonus demografi dan urbanisasi.
Dari penguatan nasional dengan menyasar PDB per kapita yang setara negara maju, kemiskinan dan ketimpangan yang berkurang, hegemoni terhadap dunia internasional, SDM yang meningkat, sampai transisi ke energi baru terbarukan. Mencakup fase penguatan nasional (sejak 2025-2029), mengakselerasi ekonomi nasional (2030-2034), hingga ekspansi global (2035-2039).
Namun pada nyatanya, di sudut-sudut kota besar, dalam gang sempit, anak-anak masih harus belajar dengan fasilitas terbatas. Apalagi di desa, untuk membeli buku dan pena saja menyulitkan, lalu bagaimana bisa mimpi SDM unggul dapat tercapai. Indonesia berlari kencang menurut data-data pemerintah, meninggalkan masyarakat yang masih tertatih.
Bonus demografi yang kerap disebut hadiah sesungguhnya pedang bermata dua. Jika generasi produktif mendapatkan pendidikan relevan dan lapangan kerja layak, ia pasti menjadi mesin pertumbuhan. Tetapi jika banyak pengangguran terdidik terus meningkat dan kualitas SDM tertinggal dari kebutuhan industri, bonus itu berubah menjadi beban sosial.
Urbanisasi dengan kota tumbuh pesat tanpa upaya sungguh-sungguh meski visinya luas, hanya melahirkan ketimpangan yang lebih lebar.
Belum lagi dinamika demokrasi yang selalu diuji polarisasi dan disinformasi – ruang digital membuka partisipasi luas, sekaligus penyebaran hoaks – Negara yang kuat dan bersih bukan hanya kata-kata, melainkan konsistensi penegakan hukum serta keteladanan moral para pemimpin. Visi besar “Indonesia Emas” tereduksi menjadi sekadar slogan.
Sejarah bangsa ini menunjukkan satu hal, Indonesia selalu menemukan jalannya di tengah krisis. Dari reformasi hingga pandemi, daya lenting sosial terbukti nyata. Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia mampu, melainkan apakah seluruh elemen bangsa mau bergerak bersama.
Indonesia Emas 2045 bukanlah garis akhir, melainkan proses panjang yang menuntut keberanian berbenah sejak sekarang. Ia lahir dari ruang kelas yang hidup, dari birokrasi yang transparan, dari industri yang inovatif, dan dari desa yang berdaya. Tumbuh ketika kebijakan tidak hanya berpihak pada angka statistik, tetapi pada wajah-wajah nyata rakyatnya.
Seratus tahun kemerdekaan seharusnya bukan sekadar perayaan simbolik. Ini harus menjadi momentum refleksi kolektif: apakah kita sekadar mengejar pertumbuhan, atau benar-benar membangun peradaban. Keemasan tidak datang sebagai hadiah waktu. Tapi diupayakan, diawasi, dan diperjuangkan bersama. Jika fondasinya kokoh dan komitmennya terjaga, 2045 bukan hanya mimpi ambisius, melainkan babak baru sejarah Indonesia yang matang, adil, dan bermartabat.
Artikel Lain :
Melihat 81 SDN Halsel yang Rusak
Rakyat yang Menanggung, Negara yang Menghitung
Rezim Prabowo dan Rule of Law yang Tersandera
Penulis : Devis Mamesah
Editor : Nurawaliah Ramadhani






