Di balik catatan kemajuan ekonomi dunia, mulai dari rantai ke slip gaji yang melahirkan evolusi halus perbudakan terdapat cerita kelam tentang tubuh-tubuh manusia yang diperas, dan penderitaan yang dibungkus dalam istilah “produktivitas.” Karl Marx dalam The Poverty of Philosophy menyatakan dengan tajam: “Tanpa menghangatkan, tak ada kapas; tanpa kapas, tak ada industri modern.” Bagi Marx, kekejian bukan hanya tragedi kemanusiaan, melainkan bagian struktural dari sistem kapitalisme yang sedang bertumbuh. Itu semua yang menjadi fondasi dari surplus, akumulasi modal, dan kelahiran industri yang kini diagungkan sebagai tanda majunya peradaban.
Industri tekstil Inggris abad ke-19, misalnya, bergantung penuh pada kapas hasil produksi di Amerika Selatan yang dikerjakan oleh jutaan budak bangsa Afrika. Kapas yang dihasilkan bisa menjadi murah karena dihasilkan dari tenaga kerja tanpa upah. Rantai nilai yang terbentuk dari ladang hingga pabrik inilah yang mendorong munculnya ekonomi modern. Lembaga keuangan, perusahaan asuransi, dan perdagangan internasional mengakar di atas kegiatan jangka panjang. Eksploitasi bukan kegagalan sistem; ia adalah denyut nadi dari sistem itu sendiri.
Perbudakan yang Berganti Wajah: Era Modern, Praktik Lama
Kita mungkin mengira bahwa perpisahan terhadap perbudakan telah lama berlalu. Namun kenyataannya, ia hanya berganti rupa. Organisasi Buruh Internasional (ILO) melaporkan bahwa lebih dari 27 juta manusia saat ini hidup dalam kondisi kerja paksa dan selamanya modern. Mereka bekerja di tambang kobalt, kapal penangkap ikan, pabrik garmen, dan bahkan rumah tangga. Mereka bukan budak dalam rantai, tapi tetap budak dalam struktur tak punya pilihan, tak punya perlindungan, dan kerap tanpa suara.
Perbudakan modern tidak memerlukan sistem yang brutal, tetapi sistem yang disebut “efisien.” Ia tersembunyi dalam rantai pasok global, dalam harga murah yang kita nikmati, dalam target pertumbuhan ekonomi nasional yang dipuja tanpa peduli siapa yang dikorbankan, sungguh sebuah dunia yang ironi.
Indonesia termasuk Negara yang Bertumpu pada Tenaga Kerja yang Dieksploitasi
Di Indonesia, bentuk-bentuk eksploitasi buruh berlangsung secara terang-terangan, bahkan dilegalisasi melalui kebijakan negara. UU Cipta Kerja (Omnibus Law) adalah contoh nyata bagaimana negara lebih berpihak pada modal dibandingkan buruh. Melalui regulasi ini, kontrak kerja diperlonggar, pesangon dikurangi, dan kepastian kerja semakin kabur. Buruh hanya dijadikan alat dagang yang dieksploitasi oleh pasar, dan parahnya, negara juga absen terhadap fenomena berdarah atas nama “investasi.”
Ironinya, negara membiayai hidupnya dari tenaga buruh itu sendiri. Setiap bulan, gaji buruh yang seringkali tidak layak dipotong untuk membayar pajak, iuran jaminan sosial, dan berbagai pungutan lainnya yang ternyata tidak memiliki dampak terhadap kehidupan yang layak untuk buruh itu sendiri. Negara dibiayai oleh darah dan keringat buruh yang mereka eksploitasi sendiri. Namun, ketika mereka menuntut hak, mereka dibungkam, diintimidasi, bahkan dikriminalisasi. Inilah bentuk abadi modern yang paling halus namun menyakitkan: tubuh diperas, leher dicekik sehingga tidak bisa menimbulkan suara, serta hukum yang selalu saja memihak pemilik modal. Lagi-lagi, kita hanya berbicara soal dari rantai ke slip gaji menuju evolusi halus perbudakan manusia.
Moralitas yang Hilang atas Nama Pertumbuhan Ekonomi
Salah satu ironi yang paling menyedihkan dari sistem ekonomi modern adalah ketidakpeduliannya terhadap manusia. Pertumbuhan ekonomi selalu saja dijadikan bahan dagangan dibalik eksploitasi yang dilakukan terhadap buruh. Perekonomian dijanjikan untuk terus tumbuh, namun buruh yang menjalankannya semakin tertekan tanpa adanya jaminan atas penghidupan yang layak. Ibaratnya angka PDB lebih penting dari nafas kehidupan buruh sehingga stabilitas investasi lebih suci dari martabat buruh.
Di sini kita harus menggugat sistem yang memandang buruh hanya sebagai penjulang angka produktivitas. Sejarah telah mengajarkan kita bahwa kemajuan yang dibangun di atas tidak pernah benar-benar kokoh. Ia selalu meninggalkan luka, meninggalkan moralitas sehingga membangun ketimpangan yang berkelanjutan sampai pada akhirnya menghancurkan sendi-sendi dari sosial itu sendiri.
Menuju Ekonomi Manusia
Sudah saatnya kita membalik narasi umum yang terus berkembang hari ini. Negara harus membangun sistem ekonomi yang tidak hanya efisien, tetapi juga adil; bukan hanya produktif, tetapi juga manusiawi. Negara tidak boleh berdiri sebagai alat modal atau sebagai penjaga para borjuis, tetapi sebagai pelindung rakyatnya. Setiap kebijakan ekonomi harus bertanya: apa yang bisa didaptkan untuk kemajuan serta kemakmuran rakyat? siapa yang paling dirugikan dari pilihan ekonomi ini? Dan yang tak kalah penting adalah apa yang akan diwariskan sistem ini untuk generasi yang akan mendatang?
Kita tak bisa terus menutup mata terhadap fakta bahwa roda ekonomi Indonesia dan dunia masih merupakan tindakan penderita yang terstruktur. Kita tidak bisa menormalisasi permanen dalam bentuk baru hanya karena ia tidak lagi memakai rantai besi. Sebab, rantai yang tak kasat mata jauh lebih berbahaya: ia melumpuhkan kesadaran, memupuk kebutuhan dan membuat kita lupa bahwa kita sedang dipenjara. Tapi apakah bisa sepenuhnya manusiawi?
Perjuangan Yang Belum Dilakukan
Sayangnya, kita hanya bisa berucap sayangnya kita belum mati. Ia hidup dalam sistem, dalam kebijakan, dalam sikap diam kita terhadap ketidakadilan. Seperti yang disebutkan Marx, abadi adalah kategori ekonomi. Dan jika kita ingin mengakhiri kekecewaan, kita harus mengubah sistem ekonomi yang masuk akal dan menguntungkan, menguntungkan untuk semua kelas.
Dari dulu rakyat hanya dipersenjatai oleh rasa tertindas dan asa yang dikobarkan untuk selalu melaju pada gerakan perlawanan, kita buruh dan kita bukan budak! Maka menjadi suatu keharusan akan kesadaran bahwa evolusi perbudakan mengalami kemajuan yang tak terelakan.
Perlawanan bukan hanya tugas buruh, tapi kewajiban moral setiap kita. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk memperjuangkan ekonomi yang berpihak pada kehidupan yang adil dan bukan hanya bersandar pada angka. Sebab tak ada makna dalam pertumbuhan, jika yang tumbuh hanyalah kesenjangan dan penderitaan.
Artikel Lain :
May Day; Sebuah Gerakan Mengungkap Pertentangan Kelas
Penulis : Siti Julaeha
Editor : Agnes Monica






