Mari kita mulai dengan satu kenyataan getir: demokrasi hari ini sedang demam tinggi. Ia menggigil di kursi kekuasaan, berhalusinasi dengan angka elektabilitas, sibuk dengan panggung formalitas, dan melupakan inti dari politik: manusia. Demokrasi kita berubah menjadi ritual lima tahunan yang membosankan, di mana rakyat dikasih hak bicara di bilik suara, lalu diminta diam selama lima tahun ke depan. Di balik panggung yang ramai itu, elit politik berdansa di meja perundingan, membagi-bagi kursi, proyek, dan fasilitas. Sedangkan Rakyat hanya menjadi penonton. Lebih pahit lagi, rakyat sering dipanggil hanya ketika dibutuhkan: sebagai angka dalam survei, barisan pendukung di jalan, atau massa yang bisa dipaksa tunduk oleh aparat. Tak heran jika kekecewaan menumpuk. Ketika demokrasi hanya menjadi perayaan elite, rakyat perlahan kehilangan kepercayaan. Bahkan organisasi mahasiswa—baik eksternal maupun internal—yang dulunya dianggap “suaranya rakyat” kini mulai dipandang sama: terlalu sibuk dengan konsolidasi, perebutan posisi, atau bernegosiasi dengan kekuasaan.
Seperti kata Emma Goldman, salah satu tokoh besar anarkisme dunia: “Jika pemilu benar-benar bisa mengubah sesuatu, mereka sudah lama dilarang.” Kalimat itu menggambarkan dengan telak kondisi hari ini. Demokrasi prosedural di negeri ini hanya menampakkan diri sebagai sistem yang menjaga stabilitas elite, bukan membebaskan rakyat. Maka, ketika demokrasi sakit, rakyat mulai mencari jalan lain. Jalan yang mungkin tidak selalu rapi, tidak selalu diterima publik, tetapi menawarkan kejujuran dan keberanian. Jalan itu bernama anarkisme.
Sebagian besar orang, ketika mendengar kata “anarkisme,” segera membayangkan kekacauan: jalanan rusuh, dan lemparan batu. Media arus utama pun kerap mengabadikan anarkisme dalam bingkai tunggal itu. Namun, jika kita menelusuri sejarahnya, anarkisme bukanlah sekadar simbol perlawanan jalanan. Ia adalah sebuah filsafat hidup yang menolak segala bentuk dominasi—baik itu negara, kapital, maupun otoritas yang menindas. Errico Malatesta, tokoh anarkis Italia, pernah berkata: “Anarki bukan berarti tanpa aturan. Ia berarti aturan tanpa penguasa.” Kalimat ini menghantam langsung stigma yang dilekatkan pada anarkisme. Intinya, anarkisme bukan menolak keteraturan, tetapi menolak keteraturan yang dipaksakan oleh segelintir orang di atas.
Dalam kerangka itu, anarkisme menjadi alternatif hidup. Ia percaya bahwa manusia bisa hidup berdampingan secara horizontal, tanpa harus selalu tunduk pada satu pusat kekuasaan. Ia percaya pada solidaritas, kerja sama, dan otonomi. Di tengah demokrasi yang sakit, tawaran anarkisme justru terasa lebih realistis. Ia tidak datang dengan janji kampanye, tetapi dengan tindakan nyata: membangun dapur kolektif, mengelola kebun bersama, menyelenggarakan sekolah mandiri, atau menciptakan ruang alternatif yang membebaskan.
Di sinilah relevansi anarkisme dalam konteks Indonesia hari ini makin terasa. Serangkaian aksi pada 28, 29, dan 30 Agustus 2025 menjadi penanda bahwa ada sesuatu yang retak dalam tubuh demokrasi kita. Pada tanggal-tanggal itu, massa turun ke jalan. Rakyat biasa, mahasiswa, buruh, hingga elemen sipil bersatu. Namun, yang menarik: publik mulai kehilangan kepercayaan pada organisasi mahasiswa formal. BEM kampus maupun organisasi ekstra dianggap sibuk dengan agenda mereka sendiri, tak lagi menjadi penyambung lidah rakyat. Kekosongan inilah yang kemudian diisi oleh kelompok anarko. Bukan karena mereka menawarkan ideologi besar yang langsung diterima semua orang, tetapi karena mereka hadir dengan cara yang sederhana: turun langsung, membaur, menjadi bagian dari keresahan nyata.
Seperti yang diucapkan Mikhail Bakunin, “Jika ada negara, pasti ada dominasi; dan di mana ada dominasi, tidak mungkin ada kebebasan.” Kutipan ini terasa hidup dalam aksi tiga hari tersebut. Rakyat menyaksikan sendiri bagaimana aparat negara lebih sibuk mengamankan simbol kuasa daripada mendengar suara rakyat. Anarko hadir sebagai alternatif, bukan karena semua orang paham teori anarkisme, melainkan karena mereka menampilkan konsistensi: berhadapan langsung dengan kuasa, tanpa kompromi.
Serangkaian aksi itu membuka mata banyak orang: bahwa ketika organisasi formal kehilangan wibawa, perlawanan mencari jalan baru. Jalan itu bisa liar, bisa penuh risiko, tapi juga penuh kejujuran. Anarkisme di sini tidak bisa dipahami semata sebagai aksi jalanan. Ia adalah simbol dari keinginan rakyat untuk merebut kembali ruang hidupnya, tanpa harus menunggu izin negara atau restu organisasi mapan. Noam Chomsky menegaskan: “Anarkisme tidak lebih dari keyakinan bahwa beban pembuktian selalu ada pada mereka yang menuntut otoritas. Jika klaim itu tidak bisa dibenarkan, maka otoritas itu tidak sah.” Kutipan ini terasa nyata ketika rakyat berhadapan dengan aparat di jalanan pada 28–30 Agustus 2025. Negara menuntut rakyat untuk tunduk, namun gagal membuktikan bahwa otoritasnya sah. Yang ada justru brutalitas, intimidasi, dan represi. Rakyat pun bertanya: mengapa kita harus percaya pada kekuasaan yang hanya tahu cara menindas?
Pada akhirnya, anarkisme tidak sedang menawarkan utopia yang rapi. Ia menawarkan keberanian untuk menata hidup sendiri, tanpa menunggu arahan dari penguasa. Ia mengajarkan bahwa kebebasan bukan hadiah, melainkan hasil perjuangan kolektif. Seperti dikatakan Pierre-Joseph Proudhon, “Siapa pun yang menempatkan dirinya di atas orang lain adalah seorang tiran.” Kalimat ini menjadi pengingat penting. Bahwa demokrasi hari ini telah melahirkan banyak tiran, bahkan dalam wajah yang katanya dipilih rakyat.
Maka rakyat punya hak penuh untuk mengambil alih hidupnya sendiri: membangun ruang, membentuk solidaritas, dan menciptakan dunia baru di balik reruntuhan demokrasi. 28–30 Agustus hanyalah awal. Sebuah pertanda bahwa rakyat sudah jengah menjadi objek kuasa, dan mulai mencari napas alternatif. Apakah anarkisme akan menjadi jalan panjang, atau sekadar percikan perlawanan sesaat? Itu bergantung pada keberanian kita merawatnya. Namun yang jelas, di tengah demokrasi yang sedang sakit, anarkisme menawarkan sesuatu yang nyata: hidup tanpa tuan, tanpa senioritas, tanpa izin, dengan cinta, akal sehat, dan keberanian.
Baca juga : Sirkel Penjajah Gaya Baru : Yang Dulu Ditindas, Kini Ikutan Menindas
Penulis : Ari Sujatmiko
Editor : Redaktur






