Pramoedya Ananta Toer lahir pada 6 Februari 1925 di Blora, Jawa Tengah. Ia merupakan putra Mastoer Imam Bandjoeri, seorang tokoh berpengaruh yang pernah menjabat sebagai ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) Blora—partai yang didirikan oleh Soekarno.
Sepanjang hidupnya, Pramoedya, yang akrab disapa Pram, telah menulis lebih dari 40 karya, termasuk novel, cerita pendek, drama, sejarah, kritik literasi, serta lebih dari 400 esai yang tersebar di berbagai media. Namun, Pram bukan sekadar seorang penulis; ia juga bagian dari Angkatan 45 yang turut angkat senjata dalam perjuangan menghadapi kolonialisme.
Setelah kemerdekaan Indonesia, Pram aktif membesarkan koran sayap kiri Bintang Timur. Melalui koran tersebut, ia terlibat dalam polemik seni dan kebudayaan, menentang seni yang dianggap mengabaikan perjuangan rakyat. Bagi Pram, seni harus menjadi cermin realitas sosial dan alat perjuangan untuk menuntaskan revolusi. Pemikirannya ini kemudian melahirkan arus seni realisme sosialis, dan ia menjadi salah satu pencetus Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).
Sebagai seorang penulis yang tak kenal kompromi, Pram dikenal karena keberaniannya menggali sejarah Indonesia yang sering kali diabaikan. Ia menulis tentang sosok Kartini, seorang pelopor emansipasi perempuan pada abad ke-19, serta Tirto Adhi Soerjo, novelis sekaligus pendiri surat kabar pribumi pertama. Pada tahun 1960, Pram dipenjara selama satu tahun karena menulis buku yang membela masyarakat Tionghoa dari diskriminasi.
Dukungan Pram terhadap Soekarno membuatnya menjadi target rezim Orde Baru. Ketika Soeharto merebut kekuasaan, Pram dipenjara tanpa proses pengadilan selama 14 tahun dan diasingkan ke Pulau Buru. Di sana, meski dibelenggu secara fisik, kreativitasnya tidak padam.
Pengalaman pahit itu ia tuangkan dalam kumpulan esai Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Di Pulau Buru pula, ia menulis karya monumental yang kemudian dikenal sebagai Tetralogi Buru—sebuah epik tentang kelahiran bangsa Indonesia yang diterbitkan oleh Hasta Mitra pada 1980-an dengan dukungan Joesoef Isak dan Hasyim Rachman.
Sayangnya, hingga kini karya-karya Pram belum sepenuhnya dihargai di tanah air. Warisan gelap Orde Baru yang penuh mistifikasi, kebohongan, dan anti-intelektualisme masih menyisakan jejak. Namun, tugas generasi muda Indonesia adalah menghidupkan kembali gagasan-gagasan Pram yang sarat dengan nilai pencerahan, kemanusiaan, rasionalitas, demokrasi, serta perjuangan revolusioner.
Pramoedya Ananta Toer adalah simbol perlawanan intelektual yang menolak lupa—seorang sastrawan besar yang tak hanya menulis sejarah, tetapi juga ikut menentukannya.
Artikel Lain : Pesan Pramoedya Ananta Toer kepada Anak Muda
Penulis : Ari Sujatmiko
Editor : Redaktur






